TIRTA dikembangkan dari satu modell coaching yang dikenal sangat
luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari
Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan):
coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses
menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee
dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan
dijadikan sebuah rancangan aksi. Will
(Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan
menjalankannya.
Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang
menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat
tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih
merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching
di komunitas sekolah dengan mudah. TIRTA
kepanjangan dari :
T: Tujuan
I: Identifikasi
R: Rencana aksi
TA: Tanggung jawab
Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke
hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka,
mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas
untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.
Tugas Anda adalah menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin
menghambat potensi murid Anda. Bagaimana cara Anda menjaga agar dapat
menyingkirkan sumbatan yang ada?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar